Padang – Akademisi dari Universitas Andalas sekaligus Ketua Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia Sumatera Barat (Sumbar) Insannul Kamil mengatakan transisi energi baru terbarukan (EBT) tidaklah ada bisa saja jadi langsung menggantikan energi fosil seperti batu bara.
"Transisi energi ini sebuah proses. Misalnya PLTU, maka bukan mampu cuma langsung tahun depan operasionalnya dihentikan dikarenakan ada skenario panjang yang mana hal tersebut harus disiapkan," kata Insannul Kamil pada area Padang, Sumbar, Minggu.
Pemerintah bersama pihak terkait harus melakukan atau menyiapkan kajian dalam menjaga eksistensi transisi energi fosil yang tersebut digunakan salah satunya digunakan sebagai sumber energi PLTU sebelum beralih secara penuh ke EBT.
"Jadi, kajian ini merupakan bagian dari transisi dari energi fosil ke energi hijau," katanya.
Saat ini, Sumbar sedang dalam proses transisi fosil ke EBT. Data Dinas Energi Sumber Daya lalu Mineral Sumbar, per Desember 2022 implementasi EBT pada Ranah Minang sudah mencapai 29 persen dari target 40 persen pada 2025.
Wakil Rektor III Universitas Andalas yang disebut menegaskan keberadaan PLTU serta pembangkit listrik yang tersebut mana masih menggunakan energi fosil di area area daerah itu, bukan bentuk inkonsistensi pemerintah setempat yang sedang menuju net zero emission.
"Jadi, bukan sesuatu yang bertentangan juga dengan pencapaian net zero emission pada 2060. Tapi skenario mengurangi energi fosil juga terus dilakukan," ujarnya.
Pemerintah Provinsi Sumbar terus mengoptimalkan berbagai kemungkinan sumber EBT. Salah satunya menggarap energi panas bumi yang tersebut hal itu mempunyai prospek hingga 17 ribu Mega Watt.
Saat ini pemangku kepentingan baru mampu menggarap sekitar 85 Mega watt yakni pada Kabupaten Solok Selatan. Namun, pemerintah sedang masuk pada tahap dua dengan estimasi 85 Mega Watt.



